Baiknya istri kita tidak jadi konsumsi umum. Yang biasa
terjadi adalah di media sosial seperti Facebook, dll. Ada istri foto selfie
sendirian. Ada pula yang memamerkan kemesraan dengan suami di medsos.
Yang terjadi pula istri suka berdandan untuk orang lain
ketika keluar rumah. Sedangkan untuk suami? Dandannya pas-pasan, bahkan lebih
senang memamerkan bau keringat daripada kecantikannya.
Begini alasannya …
Seorang suami ketika sudah melakukan akad nikah, berarti
perwalian dari orang tua perempuan sudah berpindah padanya. Sehingga nafkah
istri sepenuhnya jadi tanggung jawab suami.
Nah … jika demikian berarti kecantikan istri secara mutlak
milik suami dong.
Jika demikian, apakah layak istri itu diobral, ditonton
banyak orang? Setiap orang boleh menikmati kecantikannya?
Kalau penulis sendiri lebih senang kecantikan dan keelokan
istri jadi milik suami. Bukan diumbar di depan umum. Tidak pula dengan menyuruh
istri berdandan ketika keluar rumah.
Salah satu contoh istri teladan adalah Ummu Sulaim yang
memiliki nama asli Rumaysho. Meskipun anaknya kala itu meninggal dunia, ia masih tetap berdandan cantik
untuk suaminya. Dandanannya itu spesial untuk suaminya, bukan yang lainnya.
Kisahnya sebagai berikut.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَاتَ ابْنٌ لأَبِى طَلْحَةَ
مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ لأَهْلِهَا لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ
بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ – قَالَ – فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ
إِلَيْهِ عَشَاءً فَأَكَلَ وَشَرِبَ – فَقَالَ – ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ
مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ فَوَقَعَ بِهَا فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ
شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا قَالَتْ يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ
قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ
أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ. قَالَ فَغَضِبَ
وَقَالَ تَرَكْتِنِى حَتَّى تَلَطَّخْتُ ثُمَّ أَخْبَرْتِنِى بِابْنِى.
فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ
بِمَا كَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَارَكَ اللَّهُ
لَكُمَا فِى غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا ». قَالَ فَحَمَلَتْ
Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Thalhah dari
istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya,
“Jangan beritahu
Abu Thalhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.”
Diceritakan bahwa ketika Abu Thalhah pulang, istrinya Ummu
Sulaim ke mudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan
meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia
berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim. Ketika Ummu
Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun
berkata,
“Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada
salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak
dibolehkan untuk diambil?”
Abu Thalhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim,
“Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.”
Abu Thalhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku
tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari
tentang kematian anakku?”
Abu Thalhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.”
Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi. (HR. Muslim no. 2144)
Kenapa dandanan istri hanya untuk suaminya, bukan jadi
konsumsi umum? Lihatlah perintah Allah,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ
تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu
berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.”
(QS. Al Ahzab: 33).
Maqatil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias
diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak
menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya.
Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah. Silakan kaji dari
kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 183
(terbitan Dar Ibnul Jauzi).
Itu tanda wanita shalihah tidaklah suka dandan keluar rumah.
Dandanan cantiknya spesial untuk suaminya saja.
Jika Anda -para suami- mendapati istri yang disayangi, yang
selalu menjaga kecantikannya hanya untuk suami saja, maka bersyukurlah. Karena
itulah ciri-ciri wanita terbaik sebagaimana disebut dalam hadits berikut ….
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia
berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ
وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا
يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling
menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak
menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR.
An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 432. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad
hadits ini hasan)
Bandingkan dengan wanita saat ini, bahkan yang sudah
berhijab. Mereka lebih ingin jadi konsumsi umum daripada untuk suaminya
sendiri. Itulah bedanya wanita muslimah dahulu yang shalihah dengan yang
sekarang yang semakin rusak.
Semoga Allah beri hidayah pada para istri untuk menjadi
istri shalihah serta membahagiakan suami dan keluarga.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Penulis Adalah:
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Pernah menimba ilmu agama dari ulama besar seperti Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Aktivitas: Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul dan Pengasuh Rumaysho.Com dan Penasihat Muslim.Or.Id.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar